Penadigital.id - Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Prof.DR. HAMKA (Uhamka) menjadi narasumber pada kegiatan Pelatihan Peningkatan Kemampuan Patroli Fungsi Samapta Tahun 2024, dengan tema Melalui Pelatihan Peningkatan Kemampuan Patroli, Kita Wujudkan. Patroli Presisi yang Handal dan Profesional Guna Menciptakan Situasi Kamtibmas yang Kondusif Selama Pilkada Serentak Tahun 2024.
Kegiatan ini diusung oleh Ditsamapta Korsbhara Baharkam dan
berlangsung selama 5 hari yakni 25-30 Agustus 2024 di Satlat Brimob Cikeas,
Bogor tersebut diikuti sekitar 50 personel Polri terdiri atas anggota Samapta
Kewilayahan dan Detasemen Perintis Ditsamapta Korsabhara Baharkam Polri.
Nurlina Rahman selaku Dosen FISIP Uhamka sekaligus
narasumber dan juga sebagai wakil ketua APEBSKID (Afiliasi Pengajar, Peneliti,
Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni, Dan Desain, Komisariat DKI Jakarta
periode 2024-2028 mengatakan bahwa sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-Undang Nomor 2Tahun2002 tentang Kepolisian RI Pasal 13 bahwa Polri
mengemban tugas pokok memelihara Kamtibmas, menegakkan hukum, memberikan
perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat. Tugas-tugas tersebut juga
harus dilakukan oleh satuan anggota Samapta Kewilayahan dan Detasemen Perintis
Ditsamapta Korsabhara Baharkam Polri sebagai unsur pembantu pimpinan dan
pelaksana.
“Dalam menjalankan tugas-tugas tersebut, anggota Samapta
Kewilayahan dan Detasemen Perintis Ditsamapta Korsabhara Baharkam Polri harus
menguasai teknik berkomunikasi yang efektif,” tutur Nurlina.
Lebih lanjut, Nurlina menjelaskan bahwa komunikasi efektif
itu akan menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang
terlibat dalam komunikasi. Jadi dalam komunikasi efektif terjadi saling
bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan, dan sikap antara, dua orang
atau lebih, kelompok, organisasi yang hasilnya sesuai harapan.
Menurut Nurlina, ada 4 pendekatan yang bisa dilakukan
anggota Polri untuk menghasilkan komunikasi yang efektif. Ke-4 pendekatan
tersebut adalah persuasif, informatif, humanis, simpatik dan harmonis.
Persuasif dijabarkan sebagai cara memengaruhi manusia dalam berkomunikasi. Lalu
informatif artinya bahwa komunikasi yang dilakukan harus mampu memberikan
pengetahuan dan pemahaman.
“Sedang melalui komunikasi yang humanis kita mendambakan dan
memperjuangkan pergaulan hidup yang lebih baik Kemudian dalam komunikasi yang
simpatik dan harmonis, merupakan komunikasi dimana pelaku komunikasi
memposisikan diri sebagai pendengar aktif
yang baik dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sesama pelaku
komunikasi. Dengan cara seperti ini maka akan tercipta saling berhubungan dan
tidak ada perbedaan antar pelaku komunikasi,” ujar Nurlina.
Lebih lanjut Nurlina mengatakan bahwa pendekatan strategi
komunikasi efektif dalam tingkatan komunikasi dapat dilakukan dengan beberapa
sikap seperti selalu menghargai
pendapat, memberikan feedback, berbicara langsung, sinkron/kesesuaian, bersikap
bersahabat/terbuka, selalu dalam posisi siap, mau mendengarkan, menyampaikan
pesan dengan jelas, memperhatikan bahasa tubuh dan open mind.
Dalam kesempatan tersebut, Nurlina juga memberikan beberapa
tips menjadi komunikator yang baik yang harus dikuasai seorang anggota Polri.
Diantaranya adalah memberi informasi yang jelas, milikilah minat berkomunikasi
dengan orang lain (warga), kenali kepercayaan dan nilai budaya mereka yang
unik, pahami bahasa verbal dan nonverbal mereka dan nilai-nilai yang melekat
pada bahasa tersebut, milikilah empati terhadap orang lain.
“Selain itu, cobalah melihat sesuatu dari perspektif mereka,
tundalah penilaian atas perilaku komunikasi orang lain, hindari stereotip atas
orang lain, milikilah persepsi yang akurat dengan mendengarkan lawan bicara
secara hati-hati, mintalah umpan balik dari orang lain/mengajukan pertanyaan
dan terakhir adalah hindari memotong pembicaraan,” tegas Nurlina.
Made selaku satu diantara banyaknya peserta pelatihan
mengaku senang mendapatkan materi komunikasi efektif dalam patroli dialogis
yang disampaikan oleh Nurlina. Menurutnya, Nurlina menyampaikan paparannya
dengan komunikatif sehingga dapat segera dipahami.
“Cara menyampaikan materi, ibu Lina sangat komunikatif,
fleksibel dan mudah dipahami. Begitu juga peserta yang menerima materi
bersemangat karena disampaikan ibu sangat antusias. Kami berharap Bu Lina terus
memberikan kami bekal ilmu komunikasi yang memang benar-benar kami butuhkan.
Semoga dalam pelatihan lainnya Bu Lina masih bersedia memberikan kami materi
yang sangat bermanfaat ini,” ucap Nurlina.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana Pelatihan Kombes
Pol Mujiyono SIK. M.AP menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada semua
narasumber termasuk Nurlina Rahman yang sudah berbagi ilmu, pengetahuan dan
pengalaman kepada 50 personil Polri peserta pelatihan.
“Bu Nurlina bukan sekali ini kami minta bantuan untuk
memberikan pembekalan kepada personil Polri terkait kemampuan berkomunikasi.
Ini merupakan yang keempat kalinya,” kata Kombes Pol Mujiyono.
Kombes Pol Mujiyono
juga mengatakan, sebagai seorang akademisi sekaligus seorang public
speaking, Nurlina dinilai memiliki kompetensi komunikasi yang memang
dibutuhkan oleh anggota Polri.
“Karena kompetensi beliau yang mumpuni dibidang komunikasi
serta tanggapan dari peserta sangat baik pada beliau. Gaya penyampaian materi
yang tidak monoton, membangun suasana
pelatihan yang dinamis, hal ini terlihat dari antusias dari para peserta, maka
kami meminta bantuan kembali untuk memberikan materi tentang komunikasi
efektif,” tambahnya.
Menurut Kombes Pol Mujiyono, sebagai seorang polisi
khususnya Sabhara, memang harus memiliki kemampuan berkomunikasi. Karena tugas
Sabhara salah satunya adalah patroli dialogis, dimana ini sedang dikembangkan
melalui patroli presisi.
0 comments