BLANTERORBITv102

    Membangun Ketahanan Pangan yang Tangguh dan Berkelanjutan

    Kamis, 18 Januari 2024



    Mohammad Nur Rianto Al Arif
    (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

    Badan Pangan Nasional menyatkan bahwa impor beras masih akan dilakukan pada awal 2024 atau sebelum panen raya. Hal ini mendasarkan pada defisit neraca beras bulanan, dimana produk beras nasional diperkirakan hanya 0,9 juta ton di bulan Januari 2024 dan 1,3 juta ton di bulan Februari 2024. Jumlah produksi ini masih d bawah rata-rata konsumsi beras bulanan secara nasional yang berkisar 2,5 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia rentan akan masalah ketahanan pangan, khususnya beras.

    Data yang dirilis oleh CNBC Indonesia pada bulan Juli 2023 menunjukkan bahwa kebutuhan pangan Indonesia sangat tergantung pada pasar impor. Enam dari Sembilan barang kebutuhan pokok harus dicukupi dari negara lain. Komoditas bahan pangan utama seperti gandum, kedelain, dan jagung sangat bergantung pada impor. Indonesia mengalami defisit perdagangan buah dan sayuran rata-rata Rp 19 triliun per tahun. Bahkan pada The Global Food Security Index, Indonesia menempati posisi ke sepuluh di Asia Pasifik dan ke-60 di dunia dalam hal ketahanan pangan.

    Dengan populasi yang terus tumbuh dan perubahan dalam pola konsumsi, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam mencukupi kebutuhan pangan domestik. Meskipun impor pangan menjadi solusi sementara, langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produksi dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam perlu diterapkan. Tulisan ini berupaya untuk menyajikan beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh Indonesia dalam upaya mencapai ketahanan pangan. Serta, bagaimana Solusi yang dapat diambil untuk mengatasi hambatan tersebut.

    Terdapat beberapa tantangan utama dalam ketahanan pangan di Indonesia. Pertama ialah ketidakpastian iklim. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem dapat mengganggu pola produksi pertanian dan menyebabkan kerugian hasil panen, membahayakan ketahanan pangan. Tantangan kedua ialah ketergantungan pada impor pangan. Meskipun Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang melimpah, ketergantungan pada impor pangan masih tinggi, meningkatkan risiko terhadap fluktuasi harga dan pasokan internasional.

    Tantangan berikutnya ialah Terbatasnya lahan pertanian yang produktif menjadi hambatan serius untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring pertumbuhan populasi. Tantangan lainnya ialah penggunaan teknologi pertanian yang terbaru masih terbatas, memperlambat peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian. Terakhir, distribusi pangan yang tidak merata dapat menyebabkan kelangkaan di beberapa daerah, meskipun persediaan pangan cukup di tingkat nasional.

    Terdapat beberapa strategi yang akan diajukan untuk meningkatka ketahanan pangan di Indonesia. Pertama, upaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui Investasi dalam teknologi pertanian modern, pengembangan varietas tanaman unggul, dan peningkatan keterampilan petani melalui pelatihan. Peningkatan produktivitas akan membantu memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Kedua, mendorong diversifikasi tanaman dan pola tanam akan membantu mengurangi risiko kerugian hasil panen akibat perubahan iklim dan bencana alam. Dengan memperluas variasi tanaman, Indonesia dapat menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan adaptif.

    Ketiga, investasi dalam infrastruktur pertanian, termasuk irigasi, jaringan transportasi, dan gudang penyimpanan, dapat meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi pangan. Infrastruktur yang baik memastikan bahwa hasil panen dapat mencapai pasar dengan cepat dan efisien. Keempat, menggabungkan teknologi terkini, seperti pertanian berbasis data, sensor pintar, dan sistem pengelolaan rantai pasokan berbasis teknologi, dapat meningkatkan efisiensi produksi dan membantu mengatasi tantangan dalam distribusi pangan.

    Kelima, mendorong kebijakan yang mendukung pertanian berkelanjutan, termasuk subsidi untuk petani, pengembangan pasar lokal, dan regulasi yang mempromosikan praktik-praktik pertanian yang ramah lingkungan. Keeenam, meningkatkan kualitas pendidikan pertanian dan memberikan pelatihan yang lebih baik kepada petani akan membantu mereka mengadopsi praktik-praktik modern dan berkelanjutan.

    Meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia memerlukan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dalam mewujudkan ketahanan pangan, kita tidak bisa menggunakan pendekatan yang sifatnya hanya parsial seperti contract farming. Dengan mengimplementasikan strategi-strategi di atas, Indonesia dapat menciptakan sistem pangan yang tangguh, mampu menghadapi tantangan perubahan iklim dan pertumbuhan populasi, sambil memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas untuk seluruh masyarakat. Melalui upaya bersama, Indonesia dapat membentuk masa depan pangan yang berkelanjutan dan stabil.