BLANTERORBITv102

    Literasi Keuangan Masuk Ruang Kelas, Kemendikdasmen dan OJK Perkuat Edukasi Sejak Dini

    Senin, 28 September 2026


    Penadigital.id
    - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat literasi keuangan melalui penyediaan bahan ajar yang dapat diakses masyarakat secara gratis melalui Rumah Pendidikan. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada puncak Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026 yang berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemendikdasmen.

     

    Bahan ajar yang disediakan memuat materi literasi keuangan dalam beragam konteks pembelajaran, mencakup pengelolaan keuangan pribadi, lembaga keuangan, perekonomian digital, hingga perencanaan finansial, investasi, pinjaman, dan pengelolaan anggaran.

     

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengapresiasi kepercayaan OJK kepada Kemendikdasmen untuk menjadi mitra dalam mengembangkan ekonomi syariah sekaligus memperkuat literasi keuangan melalui pendidikan. “Buku tentang literasi keuangan syariah yang disusun oleh OJK menjadi bagian dari materi yang dapat diakses oleh para murid, para guru, dan seluruh masyarakat secara gratis. Mudah-mudahan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi bagi murid-murid kita, tetapi juga mendorong produktivitas, inklusi, serta kemajuan dan kesejahteraan bangsa dengan ekonomi syariah sebagai salah satu pilarnya,” ungkap Menteri Abdul Mu’ti.

     

    Melalui platform Rumah Pendidikan, materi literasi keuangan dapat ditemukan dalam bentuk perangkat ajar pada Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Sejumlah bahan ajar yang telah melalui proses kurasi Kemendikdasmen tersebut dikembangkan oleh Pusat Kurikulum dan Pembelajaran bersama OJK, di antaranya “Mengelola Keuangan Pribadi”, “Manajemen Keuangan Kegiatan Kepanitiaan”, “Lembaga Keuangan”, “Barisan dan Deret”, “Perekonomian Digital”, serta “Analisis Data dan Peluang”. Berbagai materi tersebut mengintegrasikan literasi keuangan ke dalam pembelajaran Ekonomi dan Matematika serta kegiatan kokurikuler.

     

    Menteri Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda, sedangkan penyediaan fasilitas dan akses pendukung dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah mitra strategis, termasuk OJK dan Kementerian Koperasi. “Kalau tugas saya sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mendidik anak-anak supaya mengerti. Tapi yang membuka berbagai akses adalah Pak Ferry dan Bapak-bapak di OJK. Inilah yang ingin kita bangun ke depan,” tegasnya.

     

    Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyampaikan bahwa kerja sama bersama Kemendikdasmen ditujukan untuk membangun strategi besar dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui pendidikan formal. “Tujuannya adalah untuk menyusun sebuah strategi besar bagaimana masyarakat kita sejak usia muda di pendidikan dasar menengah memahami mengenai keuangan syariah,” ujar Dicky.

     

    Menurut Dicky, kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan materi, tetapi juga meliputi penguatan bahan ajar dan kurikulum serta pelaksanaan pelatihan bagi para guru. Ia menilai pemahaman generasi muda mengenai berbagai layanan dan produk keuangan perlu terus diperkuat, terutama seiring dengan semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan digital.

     

    Menteri Koperasi sekaligus Ketua Harian Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES), Ferry Juliantono, turut mengapresiasi sinergi OJK, Kemendikdasmen, dan sejumlah pihak dalam penyelenggaraan ISFO 2026. “Harapannya dengan kolaborasi ini bisa menciptakan calon-calon wirausahawan muda yang nanti akan berperan besar dalam pemanfaatan dan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,” terang Ferry.

     

    Pelaksanaan ISFO 2026 diikuti oleh 11.952 peserta yang tergabung dalam 4.030 tim dari berbagai wilayah di Indonesia. Jumlah tersebut menunjukkan pertumbuhan peserta sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara jumlah tim mengalami peningkatan sekitar 15 persen.

     

    Melalui kolaborasi tersebut, kecakapan murid dalam memahami pilihan serta risiko keuangan diharapkan semakin kuat, sekaligus mendorong terbentuknya kebiasaan dalam mengambil keputusan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab. Pemerintah optimistis pembekalan literasi keuangan sejak usia dini dapat melahirkan generasi Indonesia yang tidak hanya memiliki kemampuan akademis, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan memiliki ketangguhan dalam menghadapi perkembangan era digital.


    Author

    Admin