Oleh: Prof. Dr. Zulpahmi, S.E., M.Si
Dekan FEB Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA
Ada tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan meskipun kaki telah puluhan tahun menjauh darinya. Tempat itu bukan hanya bangunan, masjid, kamar asrama, lapangan, atau lorong-lorong yang menyimpan cerita masa muda. Ia menjelma menjadi bagian dari cara kita berpikir, bersikap, bekerja, mengambil keputusan, dan memaknai kehidupan. Bagi saya, tempat itu adalah Pondok Modern Darussalam Gontor. Karena itu, ketika Gontor memasuki usia seratus tahun, yang saya rasakan bukan sekadar kebanggaan karena pernah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Ada perasaan yang jauh lebih dalam, yaitu keinginan untuk kembali melihat diri sendiri dan bertanya apakah nilai-nilai yang dahulu ditanamkan di pondok masih benar-benar hidup dalam diri kita setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di luar pesantren.
Seratus tahun Gontor tidak semestinya hanya dibaca sebagai perjalanan waktu dari 1926 menuju 2026. Satu abad adalah perjalanan panjang sebuah cita-cita pendidikan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya terdapat ketekunan para pendiri, pengabdian para guru, perjuangan para santri, kontribusi para alumni, serta berbagai dinamika yang membentuk Gontor menjadi institusi pendidikan yang terus berkembang. Karena itu, peringatan satu abad seharusnya tidak berhenti pada kebanggaan terhadap sejarah. Ia perlu menjadi momentum untuk melakukan perenungan tentang apa yang telah diwariskan, apa yang harus dipertahankan, dan apa yang harus dikembangkan agar nilai-nilai Gontor tetap relevan ketika memasuki abad berikutnya.
Saya sendiri merasakan bahwa perjalanan hidup setelah meninggalkan Gontor tidak pernah benar-benar terpisah dari pengalaman ketika menjadi santri. Ketika dahulu menjalani kehidupan pondok, banyak aktivitas yang mungkin tampak sederhana. Mengurus kesehatan rayon, menjalankan tugas organisasi, menjadi penggerak bahasa, memimpin rayon, hingga mendapatkan amanah dalam organisasi pelajar adalah bagian dari rutinitas kehidupan santri. Namun, bertahun-tahun kemudian saya memahami bahwa pengalaman tersebut sesungguhnya merupakan proses pembentukan karakter dan kepemimpinan. Gontor mengajarkan bahwa seseorang tidak harus menunggu memperoleh jabatan untuk belajar bertanggung jawab. Kepemimpinan dimulai ketika seseorang bersedia menjalankan tugas kecil dengan sungguh-sungguh dan menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Pengalaman tersebut kemudian menjadi fondasi dalam perjalanan saya sebagai dosen hingga memperoleh amanah sebagai Ketua Program Studi, Wakil Dekan, Dekan, dan Guru Besar.
Semakin besar amanah yang diterima, semakin saya memahami bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir. Jabatan hanyalah bentuk lain dari tanggung jawab. Ketika seseorang diberi posisi yang lebih tinggi, ia seharusnya tidak merasa semakin jauh dari orang lain, tetapi justru semakin dekat dengan kebutuhan orang-orang yang dilayaninya. Prinsip tersebut banyak saya pelajari dari kehidupan di Gontor. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi. Ia harus menunjukkan keteladanan, membangun kepercayaan, mendengarkan orang lain, menjaga kebersamaan, dan memastikan bahwa lingkungan yang dipimpinnya menjadi ruang bagi orang lain untuk tumbuh. Karena itu, ketika memperoleh amanah memimpin FEB UHAMKA, saya berusaha menerjemahkan pengalaman pendidikan Gontor ke dalam budaya akademik, hubungan antarsivitas akademika, pengembangan dosen, pembinaan mahasiswa, serta penguatan tradisi riset dan keilmuan.
Di situlah saya merasakan bahwa Panca Jiwa Gontor bukan sekadar warisan masa lalu. Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan merupakan nilai yang dapat terus menemukan bentuk baru dalam kehidupan. Keikhlasan mengajarkan bahwa seseorang perlu bekerja dengan kesungguhan meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan. Kesederhanaan mengingatkan bahwa jabatan tidak boleh membuat seorang pemimpin kehilangan kedekatan dengan orang lain. Ukhuwah Islamiyah mengajarkan bahwa keberhasilan institusi tidak pernah merupakan hasil kerja satu orang, melainkan buah dari kepercayaan dan kolaborasi. Berdikari menumbuhkan keberanian untuk mengambil keputusan dan tidak selalu menunggu bantuan pihak lain. Sementara kebebasan memberikan ruang bagi manusia untuk berpikir, bertanya, melakukan inovasi, dan mengembangkan ilmu dengan tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut saya berusaha hadirkan dalam setiap amanah yang saya jalankan.
Kehidupan Gontor juga memberikan pelajaran bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah. Banyak nilai justru terbentuk melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Santri belajar disiplin melalui jadwal kehidupan sehari-hari, belajar bertanggung jawab melalui organisasi, belajar bekerja sama melalui kehidupan bersama, dan belajar mandiri ketika harus menyelesaikan berbagai persoalan tanpa selalu bergantung kepada orang lain. Dengan cara tersebut, pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran, tetapi menjadi kebiasaan yang melekat dalam perilaku. Saya kira inilah salah satu kekuatan pendidikan Gontor yang terus terasa bahkan setelah seorang santri meninggalkan pondok. Gontor bukan hanya memberikan pelajaran yang diingat, tetapi pengalaman yang membentuk cara seseorang menjalani hidup.
Nilai berdikari menjadi salah satu pelajaran Gontor yang menurut saya semakin penting dalam menghadapi perubahan ekonomi saat ini. Berdikari bukan berarti menolak bantuan atau hidup tanpa hubungan dengan pihak lain. Berdikari lebih tepat dipahami sebagai kemampuan membangun kekuatan internal sehingga sebuah lembaga mampu menjalankan kehidupannya secara berkelanjutan. Dalam perjalanan Gontor, prinsip tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas ekonomi yang mendukung kebutuhan pendidikan dan kehidupan pesantren. Unit usaha, koperasi, percetakan, pertanian, peternakan, kuliner, ritel, dan berbagai kegiatan lainnya menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan aktivitas ekonomi berputar di lingkungan pesantren. Dengan demikian, ekonomi tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan.
Yang menarik, pengalaman ekonomi tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari pembentukan karakter santri. Santri dapat belajar mengenai pelayanan, pengelolaan sumber daya, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama melalui pengalaman langsung. Mereka tidak hanya membaca teori kewirausahaan, tetapi berhadapan dengan situasi nyata yang membutuhkan keputusan dan tanggung jawab. Pendidikan seperti ini melatih mentalitas untuk menjadi manusia yang produktif, bukan sekadar menjadi konsumen. Ketika kebutuhan tertentu dapat dikerjakan sendiri melalui keterampilan dan kreativitas, santri belajar bahwa pekerjaan yang halal tidak perlu dipandang rendah. Justru dari kesediaan mengerjakan pekerjaan sederhana itulah lahir penghargaan terhadap proses, kerja keras, dan martabat pekerjaan.
Pelajaran mengenai kemandirian kemudian bertemu dengan konsep wakaf produktif. Dalam pengalaman Gontor, wakaf tidak sekadar dipahami sebagai aset yang harus dipertahankan keberadaannya, tetapi sebagai amanah yang perlu dikelola agar menghasilkan manfaat secara berkelanjutan. Ketika aset wakaf dapat menghasilkan pendapatan dan pendapatan tersebut kembali digunakan untuk pendidikan serta pengembangan kelembagaan, maka wakaf menjadi instrumen yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Keputusan para pendiri Gontor pada 1958 untuk menyerahkan aset pesantren kepada umat melalui Badan Wakaf menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan kelembagaan tersebut.
Bagi saya, pelajaran dari wakaf tersebut sangat relevan dengan tantangan ekonomi modern. Hari ini kita berbicara tentang keberlanjutan, investasi berdampak, tata kelola, dan keadilan antargenerasi. Semua konsep tersebut pada dasarnya mengandung pertanyaan yang sama: bagaimana memastikan bahwa sumber daya yang kita kelola hari ini tidak hanya memberikan manfaat bagi generasi sekarang, tetapi juga tetap tersedia untuk generasi yang akan datang. Gontor memberikan contoh bahwa keberlanjutan membutuhkan sistem yang lebih besar daripada sekadar kemampuan memperoleh pendapatan. Ia membutuhkan tata kelola, integritas, disiplin, dan kesadaran bahwa aset bukan semata-mata milik pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Namun, kekuatan Gontor tidak hanya dapat dilihat dari aset dan kegiatan ekonominya. Ada kekuatan lain yang jauh lebih sulit dihitung dengan angka, yaitu modal sosial. Hubungan antara alumni tidak semata-mata terbentuk karena mereka pernah belajar di tempat yang sama. Mereka dipersatukan oleh pengalaman hidup, nilai, bahasa, tradisi, disiplin, dan proses pendidikan yang sama. Panca Jiwa menjadi salah satu perekat yang membuat hubungan tersebut dapat bertahan melampaui batas waktu dan geografis. Seorang alumni yang telah meninggalkan pondok puluhan tahun tetap dapat menemukan rasa persaudaraan ketika bertemu dengan alumni lainnya karena terdapat pengalaman dan nilai yang sama yang menjadi titik temu.
Modal sosial tersebut memiliki arti yang semakin besar di tengah dunia yang semakin individualistis. Jaringan alumni dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan, kerja sama ekonomi, pengembangan pendidikan, kegiatan sosial, dan pengabdian masyarakat. Karena itu, kekuatan alumni Gontor tidak semestinya hanya dihitung berdasarkan jumlahnya. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar jaringan tersebut mampu mengubah persaudaraan menjadi kerja nyata yang menghasilkan manfaat. Ketika alumni saling membantu membangun lembaga pendidikan, mengembangkan usaha, menggerakkan kegiatan sosial, atau membuka kesempatan bagi generasi muda, pada saat itulah nilai ukhuwah memperoleh bentuk konkretnya.
Memasuki abad kedua, Gontor juga menghadapi perubahan teknologi yang tidak dapat dihindari. Dunia pendidikan, ekonomi, komunikasi, dan kehidupan sosial telah berubah sangat cepat. Digitalisasi membuka kesempatan yang luas, tetapi sekaligus membawa tantangan baru. Pesantren perlu mampu menggunakan teknologi untuk memperbaiki tata kelola, memperluas akses pendidikan, meningkatkan efisiensi, mengembangkan usaha, dan membangun jaringan yang lebih luas. Namun, keterbukaan terhadap teknologi tidak boleh membuat pesantren kehilangan identitas. Teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat misi, bukan sebagai tujuan yang menggantikan nilai. Prinsip mempertahankan tradisi yang baik sambil mengambil pembaruan yang lebih baik menjadi relevan untuk menghadapi perubahan tersebut.
Bagi dunia pendidikan Islam, tantangan terbesar sebenarnya bukan memilih antara tradisi dan modernitas. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan nilai sebagai kompas ketika menghadapi perubahan. Teknologi dapat berkembang, model ekonomi dapat berubah, metode pembelajaran dapat diperbarui, tetapi pertanyaan tentang tujuan pendidikan tetap harus dijaga. Untuk apa ilmu dikembangkan? Untuk siapa teknologi digunakan? Ke mana arah pertumbuhan ekonomi diarahkan? Dan bagaimana memastikan bahwa kemajuan tidak hanya menghasilkan manusia yang semakin terampil, tetapi juga semakin berintegritas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah modernisasi benar-benar menjadi kemajuan atau hanya perubahan bentuk.
Pada titik ini, saya melihat bahwa memasuki usia seratus tahun justru membuat tanggung jawab Gontor semakin besar. Sebuah lembaga yang telah melewati satu abad tidak hanya memiliki sejarah untuk dikenang, tetapi juga memiliki warisan yang harus dijaga dan dikembangkan. Abad kedua menuntut kemampuan untuk membaca perubahan tanpa kehilangan jati diri. Gontor perlu terus melahirkan manusia yang menguasai ilmu, memiliki kemampuan beradaptasi, mampu membangun kemandirian ekonomi, memahami teknologi, tetapi tetap menjadikan akhlak dan pengabdian sebagai dasar kehidupannya.
Pengalaman saya sendiri semakin meyakinkan bahwa apa yang diperoleh di Gontor tidak pernah berhenti ketika seorang santri keluar dari pondok. Ketika saya menjalankan amanah di perguruan tinggi, saya membawa pengalaman tersebut ke dalam ruang akademik. Nilai yang dahulu ditanamkan melalui kehidupan santri saya coba terjemahkan menjadi budaya kerja, kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, penelitian, pendidikan, dan pelayanan. Karena itu, saya tidak melihat perjalanan dari Gontor menuju FEB UHAMKA sebagai perpindahan dari satu dunia ke dunia lainnya. Justru sebaliknya, saya merasa membawa nilai-nilai Gontor ke dalam ruang pengabdian yang berbeda.
Saya juga semakin memahami bahwa menjadi profesor bukanlah akhir dari proses belajar. Gelar akademik justru membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga tradisi ilmu. Seorang Guru Besar tidak hanya dituntut menghasilkan publikasi atau karya ilmiah, tetapi juga membangun generasi akademisi berikutnya, membimbing mahasiswa, membantu dosen muda berkembang, memperluas jejaring ilmu, dan memastikan bahwa pengetahuan yang dimiliki tidak berhenti pada dirinya sendiri. Dalam pengertian tersebut, tradisi pengabdian Gontor menemukan kesinambungannya di dunia akademik: ilmu harus terus bergerak dari satu generasi menuju generasi berikutnya.
Pada akhirnya, saya semakin percaya bahwa ukuran keberhasilan seseorang bukanlah panjangnya daftar jabatan yang pernah diemban. Jabatan akan datang dan pergi. Gelar akademik dapat bertambah, tetapi suatu saat juga akan ditinggalkan. Yang lebih panjang umurnya adalah nilai dan manfaat yang ditinggalkan. Apa yang pernah kita ajarkan kepada orang lain, siapa yang pernah kita bantu, generasi apa yang berhasil kita tumbuhkan, dan kebaikan apa yang tetap berjalan setelah kita tidak lagi berada di dalamnya, itulah yang pada akhirnya memberi makna pada perjalanan hidup.
Karena itu, “Ke Gontor, Ku Kembali” bagi saya bukan sekadar ungkapan kerinduan seorang alumni kepada masa lalu. Ia adalah ajakan untuk kembali kepada nilai yang pernah membentuk kita. Kembali kepada keikhlasan ketika bekerja, kembali kepada kesederhanaan ketika memperoleh kedudukan, kembali kepada kemandirian ketika menghadapi tantangan, kembali kepada ukhuwah ketika perbedaan muncul, dan kembali kepada kebebasan berpikir yang bertanggung jawab ketika dunia menuntut inovasi. Jika nilai-nilai itu masih hidup dalam diri kita, maka sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar meninggalkan Gontor.
Seratus tahun Gontor akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah lembaga yang mampu bertahan selama satu abad. Ia adalah cerita tentang nilai yang diwariskan melalui manusia. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, nilai tersebut menemukan bentuk baru sesuai dengan zamannya. Karena itu, tugas alumni hari ini bukan sekadar menjaga kenangan tentang Gontor, tetapi memastikan bahwa warisan tersebut memiliki relevansi bagi masyarakat yang sedang kita hadapi. Dunia membutuhkan manusia yang berilmu sekaligus berkarakter, mampu berdiri sendiri tetapi tidak individualistis, mampu menguasai teknologi tetapi tidak kehilangan nilai, serta mampu mencapai keberhasilan pribadi tanpa melupakan kepentingan masyarakat.
Maka ketika Gontor memasuki abad kedua, saya ingin memaknai kepulangan itu sebagai sebuah janji. Kita kembali bukan hanya untuk melihat apa yang pernah kita lalui, tetapi untuk memperbarui komitmen terhadap apa yang harus kita lakukan. Kita kembali untuk memastikan bahwa pendidikan yang pernah kita terima tidak berhenti sebagai kenangan pribadi. Ia harus berubah menjadi karya, pengabdian, ilmu, kewirausahaan, kepemimpinan, dan manfaat sosial. Dengan cara itulah seorang alumni dapat membuktikan bahwa pendidikan yang pernah diterimanya benar-benar menghasilkan perubahan.
Saya masih merasa sebagai seorang santri. Jabatan sebagai Dekan dan Guru Besar tidak menghapus identitas tersebut. Justru semakin tinggi amanah yang diterima, semakin kuat kebutuhan untuk mengingat dari mana semuanya bermula. Saya pernah berada di sebuah rayon, menjalankan tugas-tugas sederhana, belajar memimpin, belajar bekerja bersama, dan belajar bertanggung jawab. Dari pengalaman yang tampak kecil itulah kemudian terbentuk perjalanan yang panjang. Karena itu, saya melihat perjalanan tersebut bukan sebagai kisah tentang kenaikan jabatan, melainkan sebagai rangkaian amanah yang satu demi satu dijalankan dengan segala keterbatasan yang ada.
Gontor, ku kembali. Bukan karena saya ingin mengulang masa lalu, tetapi karena saya ingin memastikan bahwa nilai yang dahulu ditanamkan tidak ikut berlalu bersama waktu. Saya kembali kepada sebuah keyakinan bahwa ilmu harus menghasilkan manfaat, bahwa kepemimpinan harus melahirkan keteladanan, bahwa kemandirian harus melahirkan keberanian, bahwa ukhuwah harus melahirkan kerja bersama, dan bahwa kehidupan harus diarahkan kepada pengabdian. Itulah makna yang saya temukan dari perjalanan panjang sebagai santri. Seratus tahun Gontor dengan demikian bukanlah titik akhir. Ia adalah pintu menuju perjalanan baru. Abad kedua akan menghadirkan tantangan yang mungkin belum pernah kita bayangkan, tetapi prinsip dasarnya tetap sama: membangun manusia yang memiliki ilmu, akhlak, kemandirian, dan kepedulian terhadap sesama. Jika nilai tersebut terus hidup, maka Gontor tidak hanya akan dikenang karena usianya yang panjang, tetapi karena manfaatnya yang terus meluas.
Pada akhirnya, mungkin itulah arti paling sederhana dari kembali. Kita pulang bukan hanya kepada tempat, tetapi kepada nilai. Kita kembali bukan hanya kepada kenangan, tetapi kepada amanah. Kita datang bukan hanya untuk mengenang siapa diri kita dahulu, tetapi untuk memastikan siapa diri kita hari ini dan apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Dan ketika perjalanan itu terus berlanjut, saya ingin tetap membawa satu identitas yang paling sederhana: santri yang belajar, bekerja, memimpin, dan mengabdi. Sebab hidup tidak menjadi berarti karena berapa lama kita menjalaninya, melainkan karena seberapa besar manfaat yang dapat kita tinggalkan. Dan jika seratus tahun Gontor mengajarkan satu hal kepada kita, barangkali jawabannya sederhana: pendidikan yang baik tidak hanya melahirkan orang-orang pintar, tetapi melahirkan manusia yang bersedia menggunakan ilmunya untuk mengabdi.


0 comments